Dulu, Ingin Jadi Presiden

Honny Pigai
0


Dahulu, ketika kecil, saya sempat bercita-cita menjadi Presiden. Mungkin saat itu pikiran kekanak-kanakanku memandang kalau menjadi Presiden, saya akan dilimpahi banyak uang, banyak teman, bisa berbuat segala hal, pokoknya jadi orang hebat.

Wakti itu, tak terpikir tentang tanggung jawab yang besar kalau jadi. Apalagi masalah dan keprihatinan yang harus tertuju kepada rakyat dalam negara yang akan saya duduki.

Saya memulai melangkah dari nol. Hanya untuk satu tujuan. Saya mulai melangkah sekolah, bahkan kuliah. Waktu jadi pelajar dan mahasiswa, cita-cita kecilku tumbuh kembali, “Jadi Presiden.” Ya, itulah yang harus diraih. Tidak boleh menyia-nyiakan waktu.

Saya pikir iklim demokrasi memungkinkan siapa saja bisa menjadi orang nomor satu. Semangat tidak berhenti. Saya belajar sekemampuan. Otak dan hati sudah tertuju. Siap diri dengan matang. Apalagi pasti ada persaingan yang ketat. Itu tekatku.

Tekat untuk menjadi presiden, karena punya ide agar keberpihakan bagi rakyat terjamin. Supaya rakyat mengalami keadilan dan kedamaian. Cara untuk buat rakyat baik, ada banyak jalan. Bukan hanya kesejahteraan dan kemakmuran hidup secara material belaka semata, tetapi lebih dari itu kemakmuran dan kedamaian hati. Karena saya pikir bahwa jadi presiden itu punya kuasa untuk mengatur dan melayani dengan sepenuh hati, bukan memiliki egoisme fundamental yang hanya mementingkan diri, keluarga, suku atau partai pendukung saja. Presiden itu orang publik, milik banyak orang. Maka segala aspek harus disentu, sekalipun dimintai kemerdekaan untuk mendirikan negara sendiri.

Tapi sudahlah, itu hanya cita-cita lama. Aku kini lebih suka jadi rakyat yang suka bertani di kebun. Memegang cangkul dan menanam sayuran dan petatas. Membuat pagar dan melindungi kebun. Memagari rumah dan melindungi rumah sendiri sebagai tempat suci. Bahkan menjadi teladan bagi sesama di sekitarku.

Namun, hatiku telah lama pedih. Para presiden tak ada yg becus mengurusi. Rakyat semakin miskin. Rakyat ditindas, dintimidasi, diteror, dipenjarakan dan bahkan ditembak tapi tak ada tanggapan presiden. Seperti presiden menyetujui semuanya itu terjadi. Kekuasaannya sebagai pemimpin runtuh dan hancur.

Ironis, aset-aset rakyat berkurang satu demi satu, yang ternyata hanya memperkaya segelintir kroni pejabat. Sekolah-sekolah daerah banyak yang nyaris ambruk. Sumber Daya Manusia nyaris musnah. Tak sebanding antara kekuasaan pak presiden dengan apa yg dikerjakannya.

Apa yang menghambat kekuasaan pak presiden? atau jangan-jangan kau  menyetujui semua kebobrokan ini berlangsung lama. Atau jangan jangan kau lebih mementingkan dirimu sendiri daripada rakyat. Atau jangan-jangan kamu dulunya justru bercita-cita jadi pedagang, sehingga melihat negeri ini sebagai barang dagangan dan menjualnya kepada siapa saja yang mau membelinya dengan harga yang cocok(mungkin murah, mungkin juga sangat murah).

Jangan begitu pak presiden. Demi Allah, kami akan menuntutmu di akhirat kelak. Jangan lagi berharap ke surga dengan mudah. Enak saja!!


*Honaratus Pigai
Papua, 24 Mei 2016

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*